Bursa

Bursa Asia Melemah Respons Serangan AS ke Situs Nuklir Iran

Bursa Asia Melemah Respons Serangan AS ke Situs Nuklir Iran
Bursa Asia Melemah Respons Serangan AS ke Situs Nuklir Iran

JAKARTA - Bursa saham Asia mengalami tekanan pada pembukaan perdagangan Senin pagi (23/6) di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik akibat serangan AS ke situs nuklir Iran akhir pekan lalu. Pada pukul 08.18 WIB, indeks Nikkei 225 turun 192,55 poin atau 0,49% ke level 38.213,74. Indeks Kospi Korea Selatan terkoreksi 34,35 poin atau 1,12% menjadi 2.987,89. Bursa Australia ASX 200 juga melemah 73,98 poin atau 0,87% ke 8.421,20. Sementara itu, indeks Straits Times Singapura turun 30,05 poin atau 0,78% ke 3.854,17, dan indeks FTSE Malaysia turun 12,34 poin atau 0,89% ke 1.489,40.

Tekanan pasar ini dipicu oleh aksi militer AS yang menargetkan fasilitas nuklir di Iran. Investor kini menunggu respons Iran atas serangan tersebut setelah sebelumnya Iran memperingatkan akan melakukan pembalasan. Israel yang terlibat dalam konflik ini juga tidak menunjukkan tanda-tanda akan menghentikan serangannya.

Josh Golbert, analis pasar di eToro Sydney, mengungkapkan, "Ketidakpastian seperti ini dengan cepat menjadi hal yang lumrah bagi pasar. Jadi saya perkirakan akan ada ketenangan relatif, kecuali jika kita melihat ketegangan yang terus meningkat." Pernyataan Golbert ini menunjukkan bahwa pasar masih menahan diri dan waspada terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat memengaruhi stabilitas regional dan global.

Ketegangan antara Iran dan Israel semakin memanas setelah Iran berjanji memberikan konsekuensi atas serangan Israel yang menghantam fasilitas militer di Teheran. Dalam pernyataan resmi, Iran menegaskan pihaknya memiliki berbagai pilihan untuk mempertahankan kedaulatan dan keamanan negaranya.

Konflik yang berlarut-larut ini tidak hanya berdampak pada pasar saham Asia, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pada pasar energi global, mengingat peran strategis Timur Tengah dalam produksi minyak dunia. Peningkatan ketegangan dapat memicu lonjakan harga minyak, yang berimbas pada inflasi dan biaya produksi secara global.

Ataru Okumura, ahli strategi suku bunga senior di SMBC Nikko Securities, menyoroti dampak lanjutan dari siklus pembalasan ini terhadap pasar keuangan, "Jika siklus pembalasan terus berlanjut, peningkatan belanja fiskal AS dapat menyebabkan kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga saham AS."

Pernyataan Okumura menekankan risiko meningkatnya ketidakpastian yang dapat memicu volatilitas pasar obligasi dan saham Amerika Serikat, yang kemudian berimbas pada bursa saham global, termasuk di Asia.

Sementara itu, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi China yang akan dirilis dalam waktu dekat, yang dianggap penting dalam menentukan arah pasar global, terutama dalam konteks pemulihan ekonomi pascapandemi dan dampak geopolitik saat ini.

Pasar Asia yang cenderung sensitif terhadap gejolak global saat ini menunjukkan reaksi negatif, dengan investor mengambil langkah konservatif. Penurunan indeks utama mencerminkan kekhawatiran terhadap potensi konflik yang berkepanjangan dan dampaknya terhadap ekonomi dunia.

Secara keseluruhan, pelemahan bursa Asia pada Senin pagi ini menggambarkan ketidakpastian dan kehati-hatian investor dalam merespons situasi geopolitik yang sedang berlangsung. Perkembangan terbaru dari Iran dan Israel akan menjadi faktor utama yang menentukan sentimen pasar dalam beberapa hari ke depan.

Fakta Singkat Bursa Asia Senin (23/6) Pagi:

Nikkei 225 turun 192,55 poin (0,49%) ke 38.213,74

Kospi turun 34,35 poin (1,12%) ke 2.987,89

ASX 200 turun 73,98 poin (0,87%) ke 8.421,20

Straits Times turun 30,05 poin (0,78%) ke 3.854,17

FTSE Malaysia turun 12,34 poin (0,89%) ke 1.489,40

Investor global kini menanti perkembangan situasi di Timur Tengah sekaligus data ekonomi dari China yang akan mempengaruhi arah pasar selanjutnya.

Dengan demikian, bursa Asia pada Senin pagi menunjukkan tanda-tanda koreksi akibat kekhawatiran geopolitik yang masih membayangi, di mana ketegangan antara AS, Iran, dan Israel menjadi faktor sentral yang perlu diwaspadai oleh para pelaku pasar.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index